Minggu, 18 Maret 2012

GERaKAN DI/TII


                                      GERKAN DI/TII
 DII TII sebenarnya hanyalah suatu persamaan dari kata NII, berdasarkan namanya tentulah organisasi ini berjuang atas nama Umat Islam yang ada di seluruh Indonesia. Nama NII sebenarnya kependekan dari “Negara Islam Indonesia” dan kemudian banyak orang yang menyebutkan dengan nama Darul islam atau yang dikenal dengan nama “DI” arti kata darul Islam ini sendiri adalah “Rumah Islam” dari kata tersebut dapat kita ambil pengertian bahwa organisasi ini merupakan tempat atau wadah bagi umat islam yang ada di Indonesia untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi mereka, agar aspirasi-aspirasi mereka dapat tertampung dan dapat terorganisir sehingga berguna bagi umat islam di Indonesia.
Gerakan atau organisasi ini bertujuan untuk menjadikan Negara Indonesia ini menjadi Negara yang berdasarkan atas dasar-dasar pokok agama islam atau atas dasar-dasar Hukum Islam yaitu berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist, karena pada saat itu Negara Indonesia yang baru saja memproklamirkan diri menjadi suatu Negara yang berdaulat dan masih carut marut di berbagai bidang baik bidang politik, ekonomi dan militer. Atas dasar itulah para pemimpin-pemimpin Pusat Majelis Islam menganggap bahwa keadaan Negara Republik Indonesia sedang vakum pemerintahan, artinya para pemimpin tersebut menganggap bahwa Negara Indonesia itu sedang kosong dan perlu dibentuk suatu Negara yang berdasarkan Hukum_Hukum Islam agar keadaan Negara tersebut menjadi membaik dan bisa berkembang di bawah ajaran-ajaran Islam tentunya.
 Setelah mendapatkan waktu yang tepat, para pemimpin Pusat Majelis Islam tersebut mengumandangkan bahwa telah berdiri” Negara Islam Indonesia” pada tanggal 12 syawal 1368 H bertepatan pada tanggal 7 Agustus 1949. Proklamasi tersebut di ucapkan oleh S.M Kartosuwiryodan para pembantu utamanya atas nama Umat Islam bangsa Indonesia di kampung Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang, Singaparna, Tasikmalaya(di kaki gunung Galunggung) disilah saksi bisu berdirinya” Negara Islam Indonesia”.

Bunyi atau isi dari naskah proklamasi tersebut sebagai berikut :
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Asyaduallaa Ilaaha illallaah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasullullah; Kami Umat Islam bangsa Indonesia, menyatakan; berdirinya “Negara Islam Indonesia”. Maka Hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu, ialah Hukum Islam. Allahu akbar ! Allahu akbar ! Allahu akbar !
                                    Atas nama Umat Islam Bangsa Indonesia
Imam Negara Islam Indonesia
                        tt.                                
S.M Kartosuwiryo                 
Madinah- Indonesia, 12 Syawal 1368
7 agustus 1949

Teks proklamasi NII itu juga dilengkapi berbagai penjelasan-penjelasan tentang beberapa hal yang menjadi dasar-dasar berdirinya NII serta beberapa hal tentang pengertian NII itu sendiri.
Dalam perkembangannya DI menyebar keberbagai daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Aceh dan berbagai daerah lainya. Namun karena DI ini dianggap memberontak pada pemerintahan Republik Indonesia akhirnya S.M Krtosuwiryo ditangkap TNI dan di eksekusi pada tahun !962, kerena pemimpin mereka ditangkap dan dieksekusi akhirnya organisasi ini peceh keberbagai daerah, akan tetapi walaupun organisasi ini terpecah belah tpai tetap eksis dengan cara diam-diam meskipun dianggap organisasi illegal oleh pemerintahan Indonesia.


Selain itu perkembangan perkembangan tersebut DI ini mampu memunculkan pemimpin-pemimpin pada dearah-daerah tertentu seperti :
1.      Gerakan DI/TII DAUDBEUREUEH
2.      Gerakan DI/TII IBNU HADJAR
3.      Gerakan DI/TII AMIR FATAH
4.      Gerakan DI/TII KAHAR MUZAKKAR
Gerakan yang dipimpim oleh Daudbeureueh ini terjadi didaerah Aceh, gerakan ini muncul ketika Daudbeureueh memproklamasikan diri serta menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari Negara Islam Indonesia. Daudbeureueh pernah menjabat sebagai"Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh" sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil memengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.Namun ketika bantuan datang dari Sumatra Utara dan Sumatra Tengah, operasi pemulihan keamanan ABRI ( TNI-POLRI ) segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu " Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" pada bulan Desember1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel Jendral Makarawong.
            Gerakan DI/TII selanjutnya dipimpim oleh Ibnu Hadjar, pemberontakan ini terjadi pada bulan Oktober 1960 di Kalimantan Selatan. . Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos-pos kesatuan ABRI (TNI-POLRI). Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hadjar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota ABRI. Ibnu Hadjar sempat menyerah, akan tetapi setelah menyerah dia kembali melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi sehingga pemerintah akhirnya menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati.
            Gerakan DI/TII berikutnya dipimpin oleh Amir Fatah, gerakan ini terjadi didaerah Jawa Tengah. Sebelumnya Amir Fatah adalah bagian dari orang-orang Indonesia namun karena berbagai alasan akhirnya diapun membangkan, alsan-alasan tersebut seperti; . Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh "orang-orang Kiri", dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh "orang-orang Kiri" tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepda TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo. Hingga kini Amir Fatah dinilai sebagai pembelot baik oleh negara RI maupun umat muslim Indonesia.
            Ada juga gerakan DI/TII yang dipinpin oleh Kahar Muzakkar pemberontakan ini terjadi pada Sulawesi Selatan. Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilyawan Sulawesi Selatan(KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakkar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional(CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus1953. Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak mati oleh pasukan ABRI (TNI-POLRI) dalam sebuah baku tembak. Demikianlah akhir dari pemberontakan Kahar Muzakkar.
Oleh : Wisnu Happy Eko Saputro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar